Suraji

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN DINAMIKA ROTASI DAN KESEIMBANGAN BENDA TEGAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEARD TOGETHER BAGI PESERTA DIDIK KELAS XI IPA-1 SMA NEGERI 1 BATANGAN KABUPATEN PATI PADA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENDAHULUAN

Sebagian besar peserta didik di SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati mengatakan bahwa belajar fisika adalah sulit dan tidak menyenangkan. Peserta didik merasa jenuh untuk belajar fisika yang lama karena fisika banyak mengandung rumus dan konsep yang sulit difahami, sehingga materi yang disampaikan oleh guru menjadi tidak bermakna bagi peserta didik. Berdasarkan data nilai ulangan harian pada pokok bahasan persamaan gerak mempunyai nilai rata-rata 49,74, nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 10. Pada hal mata pelajaran fisika kelas XI mempunyai nilai kriteria ketuntasan minimum ( KKM) sebesar 71. Ini menunjukkan bahwa peserta didik mempunyai hasil belajar rendah. Disamping itu hasil pengamatan pada proses pembelajaran disimpulkan bahwa kreativitas belajar peserta didik masih rendah.

Kreativitas belajar dan hasil belajar peserta didik rendah tidak hanya disebabkan oleh faktor dari peserta didik saja, tetapi faktor guru juga mempengaruhi. Sebagian besar guru dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode yang konvensional yaitu ceramah.

Untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik harus di laksanakan pembelajaran yang kreatif yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik adalah model pembelajaran Numbered Heards Together (NHT).

Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, penulis bermaksud melakukan penelitian tindakan kelas tentang upaya peningkatan kreativitas dan hasil belajar fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar melalui penerapan model pembelajaran number heard together bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1). Apakah melalui model pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013? (2). Apakah melalui model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013? (3). Apakah melalui model pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas dan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013?

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (a). Melalui model pembelajaran NHT untuk meningkatkan kreativitas bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati. (b). Melalui model pembelajaran NHT untuk meningkatkan hasil belajar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati. (c). Melalui model pembelajaran NHT, untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati.

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kreativitas Belajar

Barron (1982) dalam Asrori (2007:61) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru di sini bukan berarti harus sama sekali yang baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya. Menurut Torrance dalam Asrori (2007: 73), karakteristik kreativitas adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar, tekun dan tidak mudah bosan, percaya diri dan mandiri, merasa tertantang oleh kemajuan/kompleksitas, berani mengambil resiko, berfikir divergen.

Hamalik (2011: 147) menuliskan bahwa ciri-ciri orang kreatif adalah (1) lancer berbicara dan kaya akan ide, (2) fleksibel dan adaptif, (3) bersifat inventif dan berfikir divergen, (4) memiliki ingatan yang baik dan berpikr asosiatif, (5) cendrung memiliki sifat humor dan melucu, (6)sering tidak menyukai hal-hal yang lazim, (7) memiliki pandangan yang baik tentang dirinya.

Hasil Belajar

Menurut Thorndike dalam Budiningsih (2005:21) belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. Perubahan perilaku akibat belajar dapat berwujud konkrit dan tidak konkrit. Sudjana (2001:22) menegaskan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran (Depdiknas, 2008:24).

Teknik Pembelajaran Number Heads Together

Menurut Hardini dan Puspitasari (2011:10), kegiatan pembelajaran merupakan aktivitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar peserta didik berlangsung optimal.

Menurut Piaget dalam Budiningsih (2005: 50), langkah-langkah pembelajaran adalah menentukan tujuan pembelajaran; memilih materi pelajaran; menentukan topic-topik yang dapat dipelajari peserta didik secara aktif; menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topic-topik tersebut misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, mulasi, dan sebagianya; mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berpikir peserta didik; pelakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

Menurut Lie (2002) dalam Wena (2011, 189-190) pembelajaran kooperatif adalah system pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan dalam system ini guru bertindak sebagai fasilitator.

Menurut Santoso (2011), salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu NHT (Numbered Heads Together. Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas peserta didik dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Model pembelajaran number head together berfungsi untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam merangkum suatu cerita secara runtut sehingga siswa dapat menceritakan kembali cerita yang dipelajarinya. Tujuan model pembelajaran Number Head Together adalah agar pemahaman siswa bercerita melalui model NHT yang diberikan dalam bentuk tugas per kelompok, agar siswa dapat saling menambah kekurangan pembendaharaan kata dalam merangkai kembali cerita yang dipelajarinya, karena ada kerjasama itulah diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan atau kesukaran dalam menceritakan kembali cerita yang dipelajarinya (http://ras-eko.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-nht.html).

Menurut kurniadi (2010), langkah-langkah dalam menerapkan NHT adalah sebagai berikut: (a). Penomoran, penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi peserta didik nomor sehingga setiap peserta didik dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah peserta didik di dalam kelompok. (b). Pengajuan Pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula. (c) Berpikir Bersama, setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, peserta didik berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan. (d) Pemberian Jawaban, guru menyebut salah satu nomor dan setiap peserta didik dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya peserta didik yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut http://www.papantulisku.com/2010/01/model-pembelajaran-kepala-bernomor_15.html

Kerangka Berpikir

Secara grafis pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat digambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut :

Kondisi Awal

Guru belum

melaksanakan pembelajaran NHT

Peserta didik kelas XI IPA-1:

- Kreativitas belajar fisika rendah.

- Hasil ulangan harian rendah

Tindakan yang dilakukan

Kondisi Akhir yang diharapkan

Guru melaksanakan pembelajaran NHT

Siklus I

Melaksanakan pembelajaran NHT

Siklus II

Mengembangkan pembelajaran NHT

Hipotesis

Melalui pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar fisika

Dugaan bahwa pembelajaran NHT meningkatkan kreativitas dan hasil belajar fisika

Gambar 1: Kerangka berfikir penelitian

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian pada landasan teori dan kerangka berfikir maka disusun hipotesis sebagai berikut: (1). Melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. (2). Melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. (3). Melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas dan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

METODOLOGI PENELITIAN

Seting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2012/2013 semester genap pada bulan Januari - Februari 2013.

Subjek dan Objek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPA-1. Sedangkan objek penelitian ini adalah kreativitas dan hasil belajar fisika pada materi dinamika rotasi.

Data dan Sumber Data

Sumber data dari subjek penelitian merupakan data primer misalnya nilai ulangan harian. Sumber data dari selain subjek penelitian merupakan data skunder misalnya data hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik dan alat pengumpul data sebagai berikut: (a). Data kreativitas belajar fisika pada kondisi awal peserta didik. Data ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumentasi. Alat pengumpulan data berupa dokumen yaitu catatan tentang kreativitas belajar fisika. (b). Data hasil belajar fisika pada kondisi awal peserta didik. Data ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumentasi. Alat pengumpulan data berupa dokumen yaitu daftar nilai ulangan harian. (c).Data kreativitas belajar fisika pada siklus 1 dan 2

Data ini dikumpulkan menggunakan teknik observasi. Alat pengumpulan data berupa lembar observasi tentang kreativitas belajar fisika. (d) Data hasil belajar fisika pada pada siklus 1 dan 2. Data ini dikumpulkan menggunakan teknik tes. Alat pengumpulan data berupa butir soal. Butir soal berbentuk tes uraian.

Validasi Data

Agar data yang diambil dalam penelitian ini lebih valid, maka penelitian ini menggunakan validasi data sebagai berikut : (a). Validasi data kreativitas belajar fisika. Supaya diperoleh data kreativitas belajar yang lebih valid, perlu divalidasi dengan melibatkan observer teman sejawat atau berkolaborasi dengan teman sejawat. (b). Validasi data hasil belajar fisika. Supaya diperoleh data hasil belajar yang lebih valid, perlu divalidasi (contain validity) dengan cara membuat kisi-kisi soal sebelum membuat butir soal. Tujuan pembuatan kisi-kisi adalah agar isi butir soal sesuai kurikulum yang berlaku, dan agar isi butir soal tidak mengelompok pada butir soal tertentu.

Analisis Data

Dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif dan data kuantittif. Data kualitatif hasil pengamataan kreativitas belajar fisika menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap siklus dengan membandingkan kreativitas belajar fisika kondisi awal dan siklus 1, membandingkan kreativitas siklus 1 dan siklus 2 serta membandingkan kreativitas belajar fisika kondisi awal dan kondisi akhir. Sedangkan data kuantitatif hasil belajar fisika menggunakan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil belajar fisika kondisi awal, hasil belajar fisika setelah siklus 1, dan hasil belajar fisika setelah siklus 2.

Prosedur Tindakan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK). Peneliti bertindak sebagai pengajar, pendidik dan observer yang berkolaborasi dengan guru sejawat. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dengan tiap siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi).

Secara keseluruhan prosedur penelitian dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas t di gambarkan pada bagan berikut:

Gambr 2: Alur rancangan penelitian

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal kreativitas belajar fisika pada subjek penelitian diperoleh melalui pengamatan terhadap proses kegiatan belajar saat membahas pokok bahasan persamaan gerak. Hasil pengamatan kreatifitas sebagai berikut:

Tabel 1: Persentase krearivitas belajar fisika pada kondisi awal

No

Aspek yang diamati

Persesntase

1

Rasa ingin tahu

14.29%

2

Percaya diri & mandiri

31.43%

3

Mempunyai ide baru

8.57%

4

Mudah merespon

20.00%

5

Bekerja keras

42.86%

Rata-rata Kreativitas belajar fisika

23.43%

Hasil belajar fisika pada kondisi awal diperoleh dari dokumen ulangan harian pada materi persamaan gerak. Data hasil belajar pada kondisi awal seperti pada table 2 dan 3 sebagai berikut:

Tabel 2: Rata-rata nilai ualangan harian pada kondisi awal

Kriteia

Nilai

Nilai Terendah

10

Nilai Tertinggi

80

Nilai Rata-rata

49.74

Tabel 3: Ketuntasan belajar pada kondisi awal

Kriteia

Jumlah

Persentase

Nilai tuntas

3

8.57%

Nilai tidak tuntas

32

91.43%

Deskripsi Hasil Siklus I

Pada tindakan siklus I membahas materi dinamika rotasi. Pengamatan kreativitas belajar fisika terhadap peserta didik adalah sebagai berikut:

Tabel 4: Persentase kreativitas belajar fisika pada siklus I

No

Aspek yang diamati

Prosesntase

1

Rasa ingin tahu

51.43%

2

Percaya diri & mandiri

48.57%

3

Mempunyai ide baru

37.14%

4

Mudah merespon

48.57%

5

Bekerja keras

71.43%

Rata-rata Kreativitas belajar fisika

51.43%

Hasil belajar pada siklus I diperoleh melalui ulangan harian pada materi dinamika rotasi seperti pada tabel 5 dan 6 sebagai berikut:

Tabel 5: Nilai rata-rata ulangan harian pada siklus I

Kriteia

Nilai

Nilai Terendah

40

Nilai Tertinggi

86

Nilai Rata-rata

67.66

Tabel 6: Ketuntasan belajar pada siklus I

Kriteia

Jumlah

Prosesntase

Nilai tuntas

19

54.29%

Nilai tidak tuntas

16

45.71%

Deskripsi Hasil Siklus II

Pada siklus II membahas materi keseimbangan benda tegar. Peneliti dan observer mengamati, mencatat semua aktivitas yang terjadi pada saat peserta didik mengikuti pembelajaran NHT. Hasil pengamatan tentang kreatifitas adalah berikut :

Tabel 7: Persentase krearivitas belajar fisika pada siklus II

No

Aspek yang diamati

Prosesntase

1

Rasa ingin tahu

65.71%

2

Percaya diri & mandiri

77.14%

3

Mempunyai ide baru

71.43%

4

Mudah merespon

74.29%

5

Bekerja keras

88.57%

Rata-rata Kreativitas belajar fisika

75.43%


Hasil belajar fisika pada siklus II diperoleh dari ulangan harian pada materi keseimbangan benda tegar seperti pada table 8 dan 9 sebagai berikut:

Tabel 8: Nilai rata-rata ualangan harian pada siklus II

Kriteia

Nilai

Nilai Terendah

50

Nilai Tertinggi

100

Nilai Rata-rata

76.03

Tabel 9: Ketuntasan belajar pada siklus II

Kriteia

Jumlah

Persesntase

Nilai tuntas

30

85.71%

Nilai tidak tuntas

5

14.29%

Pembahasan/Diskusi

Untuk meningkatkan pembelajaran, SMA Negeri 1 Batangan menerapkan pembelajaran kooperatif model numbered head together (NHT) pada pelajaran fisika. Pada pembelajaran ini dilaksanakan dalam 4 (empat) tahap yaitu: penomoran (Numbering), peserta didik dibagi menjadi tujuh kelompok; pemberian pertanyaan (Questioning), pertanyaan yang diberikan dalam diskusi pada penelitian ini berjumlah 10 soal tiap siklusnya; berfikir bersama (Head Together), semua peserta didik berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing; dan yang terakhir yaitu pemberian jawaban (Answering).

Penelitian ini dilaksanakan dua siklus, setiap siklus dilakukan untuk mengetahui peningkatan kreativitas dan hasil belajar fisika melalui model pembelajaran NHT.

Kreativitas Belajar Fisika

Observasi dilakukan oleh peneliti dan berkolaborasi dengan teman sejawat untuk memperoleh gambaran peserta didik tentang kreativitas belajar fisika. seperti pada tabel 10 berikut ini:

Tabel 10: Peningkatan kreativitas belajar fisika dari kondisi awal sampai siklus II

No

Aspek yang diamati

Prosesntase

Kondisi awal

Persentase

Siklus I

Persentase

Siklus II

Reffleksi

1

Rasa ingin tahu

14.29%

Sangat lemah

51.43%

Cukup

65.71%

kuat

Peserta didik mempunyai rasa ingin tahu dari sangat lemah mnjadi kuat

2

Percaya diri & mandiri

31.43%

Lemah

48.57%

cukup

77.14%

kuat

Peserta didik yang mempunyai percaya diri dan mandiri dari lemah menjadi kuat

3

Mempunyai ide baru

8.57%

Sangat lemah

37.14%

lemah

71.43%

kuat

Peserta didik yang mempunyai ide baru dari sangat lemah menjadi kuat

4

Mudah merespon

20.00%

Sangat lemah

48.57%

cukup

74.29%

kuat

Peserta didik yang mudah merespon dari sangat lemah menjadi cukup

5

Bekerja keras

42.86%

cukup

71.43%

kuat

88.57%

Sangat kuat

Peserta didik yang bekerja keras dari cukup menjadi sangat kuat

Rata-rata Kreativitas belajar fisika

23.43%

lemah

51.43%

cukup

75.43%

kuat

Rata-rata kreativitas belajar fisika dari lemah menjadi kuat berarti ada peningkatan kreativitas sebesar 52 %.

Dari hasil observasi penelitian menunjukkan bahwa peserta didik kelas XI IPA-1 mempunyai rata-rata kreativitas belajar fisika pada kondisi awal 23.43% (lemah), siklus I 51.43% (cukup), dan siklus II 75.43% (kuat). Jadi melalui penerapan pembelajaran model NHT peserta didik mengalami peningkatan rata-rata kreativitas belajar fisika dari 23.43% (lemah) menjadi 75,43 % (kuat), berarti ada peningkatan kreativitas sebesar 52 %.

Melalui pembelajaran NHT, peserta didik berperan sebagai sumber belajar antara yang satu dengan yang lain, berbagi dan mengumpulkan informasi serta saling membantu untuk mencapai keberhasilan bersama. Dengan kata lain peserta didik berperan sebagai tutor sebaya bagi kelompoknya, sebab terdapat kecenderungan bahwa peserta didik lebih mudah menerima dan memahami informasi dari teman sebayanya.

Hasil Belajar Fisika

Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, peneliti mengadakan ulangan harian setiap akhir siklus. Data ulangan harian diperoleh seperti table 11 sebagai berikut:

Tabel 11: Peningkatan hasil belajar fisika dari kondisi awal sampai siklus II

No

Kondisi Awal

Siklus I

Siklus II

Refleksi

1

Nilai ulangan harian pada kondisi awal:

Nilai terendah : 10

Nilai tertinggi : 80

Nilai rata-rata : 49.74

Nilai ulangan harian pada kondisi awal:

Nilai terendah : 40

Nilai tertinggi : 86

Nilai rata-rata : 67.66

Nilai ulangan harian pada kondisi awal:

Nilai terendah : 50

Nilai tertinggi : 100 Nilai rata-rata : 76.03

Deskriptif komparasi.

Nilai terendah meningkat sebesar 400 % dari 10 menjadi 50

Nilai tertinggi meningkat 25 % dari 80 menjadi 100

Rata-rata nilai meningkat 52,85% dari 49.74 menjadi 76,03

2

Ketuntasan belajar

Nilai tuntas : 8.57%

Nilai tidak tuntas :91.43%

Ketuntasan belajar

Nilai tuntas: 54.29%

Nilai tidak tuntas : 45.71 %

Ketuntasan belajar

Nilai tuntas: 85.71%

Nilai tidak tuntas : 14.29 %

Ketuntasan belajar 77.14% dari 8.57 menjadi 85.71

Refleksi : Pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar fisika

Berdasarkan data pada kondisi awal, nilai ulangan harian pada pokok bahasan persamaan gerak mempunyai nilai rata-rata 49,74, nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 10. Sedangkan peserta didik yang tuntas sebanyak 3 orang atau 38,57 % dan tidak tuntas sebanyak 32 orang atau 91,43 %. Pada kondisi awal menunjukkan bahwa hasil belajar fisika kelasXI IPA-1 masih rendah.

Berdasarkan data pada siklus I nilai ulangan harian pada pokok bahasan dinamika rotasi mempunyai nilai terendah 40 nilai tertingg 86, dan nilai rata-rata 68,09. Sedangkan peserta didik yang tuntas sebanyak 19 orang atau 54,29 % dan tidak tuntas sebanyak 16 orang atau 45,71 %. Dari hasil diskusi pada siklus I terdapat 4 kelompok yang dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan 3 kelompok lainnya menjawab kurang tepat.

Dari paparan data pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I, maka perlu direncanakan tindakan pada pertemuan selanjutnya (Tindakan siklus II), yaitu: (1) Pembelajaran kooperatif model NHT tersebut tetap digunakan, karena hasil yang diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif model NHT siklus I kurang maksimal jadi perlu adanya pengulangan; (2) Pada pertemuan berikutnya akan dibahas mengenai keseimbangan benda tegar; (3) Peneliti akan mengadakan perubahan anggota kelompok; (4) Pada kegiatan pembelajaran tindakan Siklus II peneliti mengadakan pendekatan lebih intensif pada peserta didik dengan melakukan tanya jawab dan memberikan pengarahan-pengarahan untuk membantu peserta didik dalam berfikir memecahkan masalah; (5) Peneliti memotivasi peserta didik agar lebih berani menyampaikan pendapat dan mengingatkan peserta didik tentang pemberian hadiah bagi peserta didik dan kelompok yang kreatifaktif, agar peserta didik lebih termotivasi; (6) Peneliti memberikan penjelasan kepada peserta didik bahwa dalam pembelajaran kooperatif model NHT ini diperlukan adanya kerjasama antar anggota kelompok sehingga untuk mencapai hasil yang maksimal maka peserta didik harus belajar bersama-sama dan perlu dihindari adanya sifat ingin menang sendiri maupun individualisme; dan (7) Dalam pembelajaran kooperatif model NHT ini, tujuan yang utama adalah dapat meningkatkan partisipasi peserta didik dan meningkatkan banyaknya informasi yang dapat diingat peserta didik sehingga antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain diharapkan dapat saling bertukar pendapat, ide, wawasan dan pengetahuan serta dapat memecahkan per-masalahan secara bersama-sama.

Berdasarkan data pada siklus II nilai ulangan harian pada pokok bahasan keseimbangan benda tegar mempunyai nilai terendah 50 nilai tertingg 100, dan nilai rata-rata 76,03. Sedangkan peserta didik yang tuntas sebanyak 30 orang atau 85,71 % dan tidak tuntas sebanyak 5 orang atau 14,29 %. Dari hasil diskusi pada siklus II terdapat 6 kelompok yang dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan 1 kelompok lainnya menjawab kurang tepat.

Dari paparan data pada siklus II menerangkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together(NHT) pada mata pelajaran fisika sudah berjalan dengan baik, hal ini juga ditandai dengan adanya peningkatan kreativitas belajar peserta didik pada siklus II.

Hasil Tindakan

Hasil penelitian yang telah dilakukan di kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan kabupaten Pati adalah ada peningkatan kreativitas dan hasil belajar fisika pada pokok bahsan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar melalui penerapan model pembelajaran NHT.

Dalam penelitian ada beberapa kelebihan yang dapat diperoleh dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model NHT, antara lain: (1) Dapat memperluas pengetahuan peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh materi saja tetapi juga pengetahuan umum lainnya; (2) Melatih peserta didik untuk berani menyampaikan pendapat; (3) Terciptanya saling percaya, serta kerjasama antar peserta didik dan antar anggota kelompok untuk berfikir dalam menyelesaikan suatu tugas atau masalah; (4) Peserta didik saling berfikir aktif dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga peserta didik semakin memahami materi yang dipelajari dan lebih mampu untuk mengem-bangkan ketrampilan berfikirnya; (5) Peserta didik dilatih membiasakan diri untuk dapat menerima pendapat orang lain; dan (6) Dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif model NHT ini terbukti dapat meningkatkn an kreativitas dhasil belajar peserta didik.

Kelemahan dari model pembelajaran NHT ini antara lain: (1) Tidak semua materi/pokok bahasan dapat menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together. Model pembelajaran ini lebih cocok bila diterapkan pada materi/pokok bahasan yang bersifat pengembangan atau penalaran; (2) Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model Numbered Head Together, suasana di kelas menjadi lebih ramai bahkan sampai tidak terkontrol. Jadi, guru harus bekerja lebih keras untuk mengendalikan keadaan di kelas; (3) Guru harus dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik serta guru harus melakukan persiapan yang matang sebelum menerapkan model Numbered Head Together ini, karena bila persiapan dan pengelolaan kelas kurang, maka model pembelajaran ini tidak akan berjalan dengan lancar.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata kreativitas belajar fisika terhadap peserta didik dari 23,43 % (lemah) menjadi 75,43% (kuat) berarti ada peningkatan kreativitas sebesar 52 %. Hasil belajar fisika menunjukkan bahwa rata-rata nilai meningkat 52,85% dari 49.74 menjadi 76,03, dan ketuntasan belajar meningkat 77.14% dari 8.57 menjadi 85.71.

Proses pembelajaran dengan model pembelajaran NHT menunjukkan bahwa melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas belajar fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013, melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013, melalui teknik pembelajaran NHT dapat meningkatkan kreativtas dan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar bagi peserta didik kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Batangan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

SARAN

Pembelajaran fisika dengan pendekatan NHT, perlu dilaksanakan oleh guru sebagai salah satu variasi pembelajaran. Melalui pendekatan NHT, peserta didik terbiasa berdiskusi, saling tukar pendapat, dan bertanggung jawab

DAFTAR PUSTAKA

Asrori, Mohamad, 2007, Psikologi Pembelajaran, Bandung, CV Wacana Prima.

Budiningsih, Sri C, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, PT Rieka Cipta.

Depdiknas, 2008, Rancangan Penilaian Hasil Belajar, Jakarta, Depdiknas.

Hardini, Isriani, dan Puspitasari, Dewi. 2012, Strategi Pembelajaran Terpadu (Teori, Konsep & Implementasi), Yogyakarta, Familia (Group Relasi Inti Media).

Hamalik, Oemar, 2010, Psikologi Belajar & Mengajar, Bandung, SInar Baru Algensindo.

Kurniadi, 2010, Model Pembelajaran NHT - Kepala Bernomor Struktur (Numbered Heads Together) (online http://www.papantulisku.com/2010/01 /model-pembelajaran-kepala-bernomor_15.html diakses tanggal 2 Mei 2012)

Santosa, 2011, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Model Number Head Together) (online http://ras-eko.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-nht.html diakses tanggal 11 Mei 2012)

Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.

Suprijono, Agus, 2012, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Wena, M. 2011, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta, Bumi Aksara

BIODATA PENULIS

Suraji, lahir di Pati tanggal 07 April 1976. S-1 Pendidikan Fisika UNNES. Mengajar Fisika di SMA Negeri 1 Batangan Kabupaten Pati.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali